Rabu, 13 Juli 2011

Bagaimana Menumbuhkan Budaya Kritis di Kalangan Mahasiswa? (Sebuah Tinjauan Pedagogis)


Tinjauan Pedagogis: Bagaimana menumbuhkan kembali budaya kritis di kalangan Mahasiswa ?
By: Prabowo Try Hartono

            Paulo Freire pernah memberikan sebuah gagasan, yakni “penyadaran (constientizacao)”, dia merefleksikan kembali gagasan dari Antoni Gramsci. Dia pernah berkata bahwa kesenjangan struktural manusia perlu diperiksa secara kritis dengan menggunakan teori penyadaran, intinya pemahaman secara mendalam tentang “realitas dan akal sehat. Caranya adalah, menghadapkan pendidikan dengan realitas yang sedang bergumul di sekitar kita. Namun, proses dan reproduksi pendidikan harus sangat diperhatikan supaya sesuatu yang diinginkan dapat tercapai, yaitu keinginan untuk mampu memprediksi realitas secara kritis dan cerdas. Tentunya agar hal ini bukan hanya pemikiran belaka.
            Pendidikan Kritis, merupakan suatu bentuk “kritisme sosial” semua pengetahuan di mediasi oleh linguistik dan tidak bisa dihindari dari sosial dan sejarah. Individu-individu dengan sendirinya dapat berhubungan dengan masyarakat yang lebih luas melalui tradisi mediasi (yaitu bagaimana ruang lingkup keluarga, teman, agama, sekolah formal, budaya, dan lain sebagainya). Pendidikan mempunyai hubungan dialogis dengan konteks sosial yang melingkupinya. Sehingga, pendidikan harus kritis terhadap berbagai fenomena yang ada dengan menggunakan pola pembahasan yang sosio-historis.
Lebih lanjut, dimaknai bahwa pendidikan kritis yang disertai adanya kedudukan wilayah-wilayah pedagogis dalam bentuk universitas, sekolah negeri, museum, galeri seni, atau tempat-tempat lain, maka ia harus memiliki visi dengan tidak hanya berisi individu-individu yang adaptif terhadap dunia hubungan sosial yang menindas, tapi juga didedikasikan untuk mentransformasikan kondisi semacam itu. Artinya, pendidikan tidak berhenti pada bagaimana produk yang akan dihasilkannya untuk mencetak individu-individu yang hanya diam manakala mereka harus berhubungan dengan sistem sosial yang menindas. Harus ada kesadaran untuk melakukan pembebasan. Pendidikan adalah momen kesadaran kritis kita terhadap berbagai problem sosial yang ada dalam masyarakat. Dan jangan sampai individu-individu yang telah dicetak dalam suatu lembaga hanya menjadi robot-robot atau penindas baru.


Upaya menggerakkan kesadaran ini bisa menggeser dinamika dari pendidikan kritis menuju pendidikan yang revolusioner. Keduanya berasal dari rahim pemikiran Freire juga. Menurutnya, pendidikan revolusioner adalah sistem kesadaran untuk melawan sistem borjuis karena tugas utama pendidikan (selama ini) adalah mereproduksi ideologi borjuis. Artinya, pendidikan telah menjadi kekuatan kaum borjuis untuk menjadi saluran kepentingannya. Maka, revolusi yang nanti berkuasa akan membalikkan tugas pendidikan yang pada awalnya telah dikuasai oleh kaum borjuis kini menjadi jalan untuk menciptakan ideologi baru dengan terlebih dahulu membentuk “masyarakat baru”. Masyarakat baru adalah tatanan struktur sosial yang tak berkelas dengan memberikan ruang kebebasan penuh atas masyarakat keseluruhan. Ini yang harus diperhatikan, kaum mahasiswa saat ini banyak yang jenuh dalam perkuliahannya, karena dituntut secara mutlak dalam sebuah sistem pendidikan di lembaga atau perguruan tinggi yang dia geluti. Tetapi ini bukan menjadi halangan, justru jadikan ini sebagai cambuk bagi mahasiswa untuk dapat kembali menumbuhkan budaya kritis itu sendiri.
Tentunya harus di camkan baik-baik bahwa pendidikan itu bersifat netral, tidak perlu memandang strata sosial, etnis, sekte, dan kasta-kasta yang ada, paradigma sempit yang saat ini masih melekat dalam diri mahasiswa itu harus dihilangkan. Jangan sampai mahasiswa menjadi “objek” dalam pendidikan, karena budaya kritis bagi mahasiswa adalah hal yang menjadi “kartu AS” kapanpun dan dimanapun mahasisiswa itu berada, jika budaya kritis ditanamkan pada diri mahasiswa, maka manfaat yang luar biasa untuk menuju “PENDIDIKAN YANG REVOLUSIONER” akan tercapai.